Opening
Pada malam itu, di sebuah ruangan
terdengar petir menyambar berulang kali mengakibatkan di ruangan tersebut
terlihat sedikit bayangan hitam. Bayangan tersebut adalah seorang laki-laki
mati dengan leher yang tergantung. Sekilas tampak sangat menyeramkan. Namun, di
ruangan tersebut ternyata ada seseorang yang memakai baju serba hitam dan
masker. Tidak diketahui identitasnya namun, sesaat dia sempat berbicara lewat
earphone.
Orang
yang diduga berbicara dengannya adalah pimpinannya dan sempat mengatakan
sesuatu, “Saya telah berhasil. Sekarang hanya langkah terakhir.” Lalu, pimpinan
tersebut menjawab lewat earphonenya, ”Baiklah.
Laksanakan dengan cermat, jangan sampai ketahuan oleh kepolisian!”
Terlihat
sekilas bayangan orang tersebut sedang memeriksa kondisi mayat itu lalu
berkata, “Baik. Saya laksanakan.”
Orang
itu mengambil sebuah kertas di kantongnya dan meletakkannya di bawah mayat itu
tergantung. Setelah melakukannya, dengan cepat ia kabur lewat jendela dan
menghilang di kegelapan.
~Episode 1~
Chapter 1
“Pertemuan Pertama”
Pagi harinya, di lokasi syuting,
Kaneki Ryunosuke alias Kai yang biasanya dipanggil oleh penggemarnya, sedang berakting
memerankan suatu drama. Dia menjadi tokoh utama dalam drama ini namun, ia
seperti tidak terlalu bersemangat dalam berakting sehingga ia terus melakukan
kesalahan dan dimarahi oleh sutradaranya.
“Hei, Kai! Tolong seriuslah! Ini
sudah ke-20 kalinya. Jika masih salah lagi, aku akan mengganti adegan yang
lainnya,” teriak sutradara sambil marah. Tetapi asisten sutradaranya yang
cantik, kakak kandung dari Kai menenangkannya sehingga sutradara tersebut tidak
marah lagi.
“Sudahlah.
Mungkin saja Kai sedang kelelahan karena jadwalnya yang padat.” Mendengar
kata-kata dari sang asisten sutradara yang cantik, akhirnya sutradara itu
memutuskan Kai untuk beristirahat sejenak selama 10 menit.
Kai
berjalan lalu duduk di tempat yang sudah disediakan. Kai mengambil sebuah
handuk yang ada di mejanya lalu meletakkannya di atas wajahnya sambil
membaringkan tubuh.
Asisten
sutradara atau yang bernama Riko Ryunosuke menghampiri adiknya dan berkata,
“Mengapa hari ini kau begitu banyak membuat kesalahan? Tidak biasanya kau
membuat kesalahan secara berulang-ulang.” Mendengar suara kakaknya yang begitu
lembut, Kai pun menjawab dengan handuk yang masih menutup wajahnya, ”Entahlah
Onii-chan. Entah mengapa hari ini aku tidak bersemangat.”
Setelah
5 menit berbaring, Kai segera beranjak berdiri dan berkata kepada kakaknya,
“Aku akan ke toilet sebentar.” Lalu kakaknya membalas, ”Cepatlah! 5 menit lagi
syutingnya akan dimulai.” Kai membelakangi kakaknya dan hanya menjawab dengan
tangan kanannya yang melambai ke atas.
Saat
di toilet, Kai membasuh wajahnya lalu mencuci tangannya. Sesaat dia melihat ke
cermin, ada seseorang bertubuh kecil dengan tinggi rata-rata 150 cm dan memakai
topi serta jaket merah melewatinya keluar dari kamar mandi. Sekilas Kai melihat
wajahnya namun, dia tidak begitu peduli lalu melanjutkan mencuci tangannya.
Setelah
Kai keluar dari toilet, ada sesuatu insiden. Seperti biasa Kai tidak begitu
peduli dengan insiden tersebut. Tetapi tiba-tiba salah satu staf berteriak,
“Hei, semuanya! Cepat panggil ambulan! Asisten sutradara sekarang ini sedang
terluka. Sepertinya dia tertusuk oleh seseorang.” Mendengar kabar itu, Kai
langsung berpaling dan segera mendatangi kakaknya karena khawatir. Sekilas ia
melihat orang yang bertubuh kecil tadi melewatinya dengan kedua tangan yang
masuk ke kantong jaket tersebut. Namun, lagi-lagi Kai tidak memperdulikannya
dan terus berlari ke tempat kejadian.
Dia
melihat kakaknya berbaring di tanah. Dengan segera ia mengangkat tubuh paling
atas ke pangkuannya dan berteriak, “Onii-chan...!!! Onii-chan...!!!” seakan
mendengar teriakan Kai, kakaknya perlahan-lahan membuka matanya lalu berkata
dengan suara pelan, “Kai.... Aku tidak apa-apa... yang terluka hanyalah
lenganku saja. Kau tidak perlu khawatir... Lagipula aku tadi...” Kai langsung
memotong kata-kata Riko, “Tidak apa-apa apanya?! Lenganmu berdarah!!!”
Ditengah-tengah
keributan datang seorang laki-laki dengan berpakaian rapi dan ternyata adalah
kekasih Riko. Namanya adalah Kentaro Reiji. Dia adalah Direktur perusahaan
entertaiment bernama Key Entertainment.
“Riko,
Riko,...!!! Kau tidak apa-apa?!” teriak Kentaro atau biasa dipanggil Ken kepada
Riko yang masih terbaring dipangkuan Kai. “Aku tidak apa-apa... Hanya lenganku
saja yang terluka,” jawab Riko dengan suara pelan dan meringis menahan sakit
sambil bangun dari posisi tidur ke posisi duduk.
Kai
memotong pembicaraan kakaknya dengan Ken dengan perasaan masih khawatir, “Siapa
yang melakukan ini, Onii-chan?!” Riko menjawab sambil memegang lengan kanannya
yang berdarah, “Aku tidak tahu. Sekilas aku tadi melihat seseorang yang
sepertinya masih berusia 12 tahun, memakai topi dan jaket berwarna merah lalu
dia,....” sebelum Riko menyelesaikan penjelasannya, Ken langsung memotong dan
menyuruh Riko untuk diobati terlebih dahulu. “Sudah, jangan bicara banyak lagi.
Saat ini kau harus segera menerima perawatan dan menghentikan pendarahanmu
terlebih dahulu.” Riko mengangguk seakan berkata ‘iya’ kepada kekasihnya. Ken
langsung memberikan jasnya kepada Riko dan menyelimutinya dengan jasnya. Ken
dan Kai membantu Riko berdiri
“Biar
aku saja yang menangani Riko. Kau lebih baik beristirahatlah. Bukankah setelah
ini kau masih ada jadwal syuting?” kata Ken kepada Kai sambil memegangi pundak
Riko. Kai yang masih khawatir dengan kakaknya segera menjawab, “Tapi onii-chan....”.”Sudahlah
Kai, aku tidak apa-apa. Kau beristirahatlah. Tadi kau dimarahi oleh Sutradara karena
kau membuat banyak kesalahan. Jadi, kau beristirahat saja,” nasehat Riko kepada
Kai yang masih dipegangi oleh kekasihnya. Riko dan Ken pergi ke Rumah Sakit sementara
Kai hanya memandang mereka dari kejauhan.
Setelah mereka pergi, Kai mulai
memikirkan tentang yaang dikatakan kakaknya tadi. Dia akhirnya mulai mengingat
ciri-ciri orang yang dibicarakan oleh kakaknya sama persis dengan orang yang
dia lihat di toilet dan di tempat kejadian. Setelah memastikannya, Kai langsung
berlari mencari orang yang dikatakan kakaknya tadi yang bercirikan memakai topi
dan jaket merah. Namun Kai tidak begitu tahu bentuk badan orang itu
sesungguhnya. Sehingga ia sering salah mengenali pelaku sesungguhnya dengan
orang biasa.
Dia terus berlari hingga ia menabrak
salah satu staf dan menjatuhkan barang yang dibawa oleh yang ia tabrak. Karena
merasa bersalah, Kai segera membantu mengambil barang-barang yang ia jatuhkan
dan merapikannya. Tetapi saat ditengah-tengah ia merapikan barang itu,
tiba-tiba ia melihat orang yang ia cari tepat di depan matanya. Segera, ia
mengejar orang itu namun usaha yang dilakukan sia-sia. Ia tidak dapat
menemukannya dan orang itu telah menghilang di antara kerumunan orang. Tetapi
dia sempat melihat lirikan mata orang tersebut yang memandangnya. Walaupun
begitu, dia tetap frustasi karena tidak dapat menemukan pelaku yang membuat
kakaknya terluka.
Disaat Kai sedang frustasi dan
bingung mencari orang itu, terlihat seseorang di balik tembok yang terletak di
belakang Kai. Ternyata orang itu adalah orang yang dicari-cari oleh Kai. Karena
gelap, maka tidak dapat melihat wajahnya secara pasti.
Orang
itu sedang menerima telepon dari seseorang yang diduga adalah bosnya. “Saya
telah berhasil melakukannya,” jawab orang itu kepada bosnya dengan mulut yang
tersenyum. Setelah orang itu mengakhiri teleponnya, ia menoleh ke arah Kai yang
masih kebingungan mencarinya lalu ia tersenyum lagi. Kali ini ia tersenyum
lebih lebar.
************
Chapter 2
“Pertemuan Kedua”
Setelah Kai merasa tidak dapat
menemukan orang tersebut, akhirnya ia kembali ke lokasi syuting dengan sangat
kesal. Di lokasi syuting ia terkejut saat para crew telah membereskan peralatan
syutingnya. Karena tidak tahu apa yang terjadi, akhirnya ia bertanya kepada
salah satu staf. “Maaf, apa yang sedang terjadi? Kenapa semua peralataan
syuting sudah dibereskan?” Staf itu langsung menengok ke arah Kai “Oo, Kai.
Karena insiden yang terjadi pada asisten sutradara dan karena kau juga tidak
segera datang, akhirnya Sutradara membatalkan syuting hari ini. Dan syutingnya
akan dilanjutkan kembali saat asisten sutradara sudah baikan. Mungkin kira-kira
besok lusa.” Jawab staf itu kepada Kai sambil membawa peralatan syuting.
Setelah Kai mendengar jawabannya,
dia langsung menuju ke rumah sakit tempat kakaknya yang saat ini sedang
dirawat. Tetapi sebelum ia pergi, ia mendapat telepon dari managernya. Segera
setelah ia mengangkat teleponnya ia berteriak memarahi managernya, “Hei, kenapa
kau hari ini tidak datang? Aku dari tadi kewalahan karena kau tidak datang.
Untung saja ada Onii-chan. Jika tidak pasti aku akan mati!!!!”
Terdengar
suara batuk managernya dan membuat Kai khawatir, “Hei, kau tidak apa-apa?”
Manager itu menjawab dengan suara seraknya, “Maaf, Kai-kun. Hari ini aku tidak
bisa membantumu. Saat ini aku sedang flu berat jadi, aku meminta Riko-chan untuk menjadi
managermu sementara ini.”
Karena
merasa prihatin Kai pun memaafkan managernya dengan sikap yang masih judes,
“Baiklah, aku ampuni. Tapi, jika ini terulang lagi akan kubunuh nanti!”
mendengar ancaman Kai manager itu pun menyindirnya, “Emangnya kau sanggup
membunuhku? Membunuh kecoa saja tidak bisa apalagi membunuhku”
“Hei,
bukannya aku tidak bisa membunuh kecoa! Aku memang tidak ingin melakukannya!”
teriak Kai kepada managernya dengan sikap yang agak malu. Namun managernya
membalas dengan menyindir dan tertawa kecil, “Kau tidak ingin membunuhnya atau
karena kau takut?! Hihihi....” “Hei,.... Kau ini!! Mau cari mati ya,...?!” teriak
Kai dengan sangat malu karena rahasia memalukannya terbongkar.
Tiba-tiba
ada seseorang wanita yang memanggil Kai dari kejauhan, “Kai-kun,...Kai-kun,...”
Kai menengok kebelakang dan terkejut melihat wanita itu. Ternyata wanita itu
adalah kekasih Kai dan namanya adalah Izumi Nakamura.
Izumi
juga seorang artis yang sedang naik daun. Kecantikan dan ketrampilannya dalam
dunia akting membuatnya sangat terkenal di dunia entertainment dan masuk di
perusahaan entertainment yang sama dengan Kai yaitu Key Entertainment. Walaupun
mereka sedang pacaran tetapi Kai sangat tidak menyukainya. Mereka pacaran agar
kepopuleran mereka naik. Meskipun terpaksa, Kai harus tetap menjalaninya. Dan
saat ini juga.
Setelah
melihat Izumi, Kai langsung meninggikan suaranya kepada managernya dan
pura-pura tidak melihat Izumi, “Hei, saat ini kau sedang apa?” Karena merasa
ada yang aneh, managernya langsung mengetahui kalau Izumi ada disana dan
pura-pura dia tidak bisa bicara lagi, “Kenapa kau tiba-tiba... Ouw... (menyadari yang sedang terjadi) Maaf
Kai, dokter menyuruhku untuk tidak bicara terlalu lama. Jadi sekian dulu,
ya...” “Hei, hei,... Tunggu du....(pip,
pip, pip)” Managernya langsung memutuskan sambungannya.
Tiba-tiba
dari arah belakang Izumi langsung memeluk Kai. “Kai-kun!!!... Lama tidak
berjumpa. Aku kangen sekali....” Kai kesal karena Izumi tiba-tiba
mengagetkannya, Kai pun langsung memarahi Izumi, “Izumi!!! Jangan mengagetkanku
tahu. Aku sedang menelepon seseorang!!!” karena merasa bersalah Izumi langsung meminta
maaf dan bertanya kepada Kai, “Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi,
bagaimana keadaan Onii-chan? Apa dia baik-baik saja? Aku dengar ada insiden
aneh hari ini.” Mendengar yang dikatakan Izumi, Kai langsung teringat dan
bergegas pergi, “Benar juga, aku harus menemui onii-chan.” Melihat Kai langsung
pergi tanpa pamitan, Izumi segera menghentikan Kai, “Eh, kau mau kemana? Jika
mau menjenguk Onii-chan, aku juga ikut.” Kai sempat berhenti dan pada akhirnya
Kai memperbolehkan Izumi untuk ikut dengannya.
Setelah
sampai di rumah sakit tempat Riko dirawat, Kai dan Izumi segera menuju ke unit
gawat darurat. Ditengah-tengah perjalanan, Izumi mau ke toilet terlebih dahulu
dan meminta Kai untuk menunggunya sebentar. Walaupun Kai sebenarnya kesal
karena harus menunggu Izumi padahal dia tergesa-gesa ingin menemui kakaknya,
pada akhirnya ia mengijinkan Izumi ke toilet dan menunggunya.
Disaat
Kai sedang menunggu, tiba-tiba orang yang memakai topi dan jaket merah seperti
orang yang dicarinya saat di lokasi syuting berjalan tepat di depannya.
Walaupun pertamanya Kai tidak peduli lagi, namun karena teringat yang terjadi
pada kakaknya akhirnya ia berlari lagi mengejar orang itu. Ia mencari ke setiap
tempat yang mungkin akan dilewati oleh orang itu. Namun usahanya sia-sia saja
dan di setiap tempat ia tidak dapat menemukannya. Lagi-lagi Kai merasa frustasi
karena orang yang tepat berada di depannya tidak dapat ia temukan.
Tiba-tiba
Izumi dari arah belakang memanggil Kai yang saat itu masih bingung mencari
orang penyebab insiden pada kakaknya. “Kai-kun! Kau mau kemana? Aku tadi
mencari-carimu. Ayo kita temui Onii-chan!” Kai yang masih mencari-cari orang
itu akhirnya menerima ajakan dari Izumi. Dan Izumi dengan senang hati
menggandeng tangan kiri Kai. Di tempat lain terlihat orang yang dicari-cari
oleh Kai sedang memandangi telapak tangan kirinya yang berdarah. Lalu ia menggenggam
tangan kirinya dengan erat dan tersenyum. Kali ini ia berada di tempat yang
cukup terang, sehingga terlihat wajahnya secara utuh. Wajah yang cukup manis, dan
tampan telah dimiliki orang itu.
Setelah
sampai di unit gawat darurat, Kai segera mencari kakaknya. Tiba-tiba dari arah
belakang seperti ada yang memanggil Kai ternyata orang itu adalah kekasih Riko.
“Hei,
Kai-kun,... Ternyata kau datang juga. (melirik
Izumi) Eh, Izumi-chan. Bukankah kau seharusnya ada jadwal syuting?” sambut
Ken kepada Kai dan Riko sambil membawa sebotol minuman. “Tidak apa-apa kok.
Mereka juga memperbolehkanku untuk cuti sementara waktu karena kasus
Onii-chan,” jawab Izumi sambil tersenyum manis.
Kai
yang begitu mengkhawatirkan kakaknya langsung memotong pembicaraan Ken dengan
Izumi, “Oneesan, dimana onni-chan?”
Ken
yang sedang mengobrol dengan Izumi langsung menoleh ke arah Kai, “Riko-chan ada
di sana (menunjukkan tempatnya).
Jangan terlalu khawatir. Itu hanya luka kecil.” Setelah mendengar penjelasan
Ken, Kai langsung menemui kakaknya. Namun saat ia datang, kakaknya sedang tidur
pulas.
Melihat
Kai yang masih khawatir, Ken mencoba menghibur Kai, “Tenanglah, Kai-kun. Saat
ini Riko-chan sedang tidur akibat efek dari obat yang diminumnya. Lagipula
kakakmu punya keberuntungan yang besar. Jika saja orang itu tidak datang
menolong, pasti kakakmu sekarang ini akan sangat menderita.” Kai terperanjat
mendengar penjelasan Ken, “Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada onni-chan
sebenarnya?”
Setelah
meminum air dengan botol yang dia bawa, Ken menjawab sambil menatap Riko, “Aku
juga tidak tahu secara detail. Yang tahu hanyalah kakakmu. Aku kesana setelah
mendengarnya dari karyawanku. Yang aku dengar, ada seseorang yang telah
menyelamatkan kakakmu. Sepertinya dia masih anak-anak karena wajahnya seperti
berusia antara 12-14 tahun.”
“Apa
maksudmu? Berusia 12-14 tahun?” tanya Kai kepada Ken. Ken menoleh ke arah Kai,
“Entahlah, aku juga tidak tahu detailnya. Aku hanya mendengarnya dari
karyawanku saja.”
Scene
beralih di sebuah rumah mewah. Entah mengapa di sana banyak sekali polisi dan
wartawan.
Salah
satu polisi menuju ke ruangan tempat kejadian. Ternyata di sana ada kasus
seperti kasus bunuh diri. Namun ada dua detektif muda yang berpikiran bahwa
kasus itu bukanlah bunuh diri. Orang itu adalah Yoh Kobayashi dan asistennya
Sato Takano. Memang mereka masih muda namun, keahlian dalam memecahkan kasus
yang rumit membuat mereka begitu terkenal di kalangan para polisi sehingga
mereka sering dipanggil untuk memecahkan sebuah kasus.
************
Chapter 3
“Kasus Bunuh Diri”
Yoh
mengamati mayat yang lehernya masih tergantung dan berfikir. Tiba-tiba Sato
datang memberikan hasil catatan yang ia dapat dari mewawancarai pembantu yang
menemukan mayat itu. Yoh melihat catatan itu lalu, Sato memberitahu Yoh,
“Yoh-san, sepertinya bukan dari anggota keluarga ini yang membunuh direktur
Ayama. Waktu itu semua anggota keluarga sedang pergi berlibur ke Sapporo. Hanya
seorang pembantu yang ada disini dan seorang supir.”
Yoh
masih mengamati catatan yang ditulis Sato lalu berekspresi seakan-akan menemukan
sesuatu dan bertanya kepada Sato, “Sato-san, apakah benar pembantu dan supir
itu bilang sebelum kematian Direktur, direktur dalam keadaan mabuk?” Sato
menjawab, “Benar, katanya Direktur habis dari sebuah klub dan minum-minuman.
Supir itu juga bilang bahwa Direktur sempat mengatakan sesuatu.
Flashback
Delapan jam yang lalu, sekitar pukul
12 pm, di sebuah klub tampak Direktur Amaya yang berjalan terhuyung-huyung
karena mabuk beratnya keluar dari sebuah klub. Sang supir yang melihat
majikannya keluar dengan terhuyung-huyung segera menahan tubuh majikannya agar
tidak jatuh dan segera membawanya ke dalam mobil.
Di dalam perjalanan, Direktur itu
terus mengatakan sesuatu dengan kondisi yang masih mabuk berat, “Apa yang harus
aku lakukan? Keluargaku sangat menderita gara-gara aku. Aku harusnya tidak
bekerja sama dengannya. Hidupku sekarang hancur. Apakah aku harus mati? Jika
aku mati mungkin keluargaku tidak akan menderita dan dia tidak akan
menggangguku lagi.”
Sang
supir mendengar perkataan tuannya yang menakutkan baginya segera menghentikan
perkataan tuannya, “Tuan, apa yang kau katakan? Jangan berkata tidak-tidak
tuan. Lagipula itu bukan salah tuan.”
Tiba-tiba Direktur itu berteriak
kepada sang supir, “Diam!!! Kau ini tahu apa?! Kau hanyalah seorang supir. Jadi
diamlah!!!” Sang supir yang terkejut karena teriakan direktur itu kepadanya
langsung menundukan kepalanya dan meminta maaf karena kelancangannya.
Mereka telah sampai di kediaman
Direktur Amaya. Supir itu membantu tuannya keluar dari mobil. Namun tuannya
menghempaskan tangannya dan menolak dibantu lalu diapun berteriak memarahi
supirnya, “Lepaskan aku! Aku bisa sendiri tanpa kau bantu. Orang kecil
sepertimu tidak boleh menyentuhku sedikit pun!” Supir pun terperanjat mendengar
kata-kata yang tak terduga oleh tuannya, dia hanya menyingkir dan melihat
tuannya yang masih terhuyung-huyung.
Direktur itu hendak memasuki
rumahnya. Lalu seorang pembantu segera membukakan pintu setelah mendengar suara
mobil yang mendekat. Pembantu itu ingin membantu tuannya menuju ke kamar
tuannya. Namun, lagi-lagi Direktur itu menolak dan menghempaskan tangannya
lagi. Kali ini Direktur itu benar-benar marah lalu menyuruh pembantu itu untuk
tidak memasuki ruangannya, “Aku beritahu kepada kalian! Kalian maupun orang
luar tidak boleh memasuki kamarku! Siapapun tidak boleh masuk ke kamarku! Jika
ada yang masuk ke kamarku, kalian akan aku pecat!”
Pembantu dan supir itu menganggukan
kepala dengan perasaan takut dan menjawab dengan gagap, “Ba-baik, Tuan.”
Direktur itu langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras
seakan membuat pembantu dan supir itu terkejut. Lalu terdengar suara seperti
ada yang pecah di dalam kamar tuannya. Sepertinya Direktur itu sangat mabuk
berat dan kesal karena mungkin adalah masalah pekerjaan.
Pagi harinya sekitar pukul 7 am
pembantu itu mengetuk pintu kamar tuannya dan memberitahu bahwa sarapan sudah
siap. Namun, tidak ada jawaban dari tuannya. Pembantu itu mencoba masuk ke
kamarnya tetapi, ia teringat dengan perkataan tuannya dan mengurungkan niatnya
untuk membuka pintu. Lalu ia kembali ke dapur karena berpikir bahwa tuannya
masih tidur.
Sekitar pukul 8 am, Direktur itu
tidak bangun-bangun padahal seharusnya ia berangkat kerja pada pukul 8.
Akhirnya pembantu itu memberanikan diri membuka pintu kamar tuannya dengan
didampingi sang supir. Karena pembantu itu tidak berani membuka pintunya,
akhirnya supir itu yang membuka pintu kamar tersebut. Perlahan-lahan supir itu
membuka pintu. Lalu melihat kamar itu sangat berantakan. Supir dan pembantu itu
mencoba memasuki kamar tuannya. Tiba-tiba pembantu itu teriak, supir menengok
ke arah pembantu itu lalu melihat ke atas. Supir itu langsung terkejut karena
ia melihat bahwa tuannya sudah mati tergantung di leher.
Flashback End
Detektif Yoh masih dalam keadaan
sedang berfikir lalu ia berjalan mendekati petugas forensik yang sedang
menurunkan jenazah dari tali gantungan. Yoh mengamati bagian leher korban
terdapat bekas tali gantungan. Namun saat ia melihat lebih dekat lagi terdapat
sesuatu yang janggal. Yaitu terdapat bekas luka akibat dicekik dengan tali.
Lalu Yoh memanggil Sato dan memberitahukannya.
“Sato-san, lihatlah! Di leher ada
bekas luka akibat dicekik. Kemungkinan ini memang kasus pembunuhan.” Sato yang
masih kelihatan bingung bertanya kepada Yoh, “Tapi, bukankah ini akibat
tergantung?”
Yoh
berjalan ke arah meja kerja, mendiang Direktur Amaya, “Walaupun tidak terlihat
jelas, di baw
ah dagu korban ada bekas luka akibat tergores oleh kuku. Namun
entah mengapa luka itu hanya tergores setengah. Kemungkinan pelaku menutupi
leher korban agar kuku korban tidak menggores di sekitar leher yang tercekik
karena sesak nafas. Sehingga korban pasti berusaha melepas tali yang
mencekiknya dan rela melukai dirinya karena tidak sebanding dengan menderita
sesak nafas. Tapi jika ini memang pembunuhan, pembunuhan ini dijalankan dengan
rencana yang sempurna dan tidak satu pun bukti yang tertinggal.”
Sato
yang tadi sempat berfikir melirik ke arah kertas yang diinjak oleh Yoh.
“Yoh-san, (Yoh tidak menanggapi).
Yoh-san (Yoh masih sibuk berfikir dan
tidak menanggapi). YOOOHH-SAAAAANNNNN!!!” dengan suara yang keras akhirnya
Yoh menanggapi Sato walaupun dengan keadaan masih terkejut akibat suara Sato
yang keras.
Yoh
berbalik lalu bertanya, ”Kenapa kau mengagetkanku? Memangnya ada apa?” Sato
menunjukkan kertas yang diinjak oleh Yoh, “Itu. Kertas yang kau injak itu agak
aneh.” Yoh mengangkat kakinya lalu mengambil kertas tersebut. Yoh membaca
kertas tersebut lalu tersenyum dan mengatakan, “Seperti dugaanku ini
benar-benar kasus pembunuhan.” Sato tampak bingung dan heran apa yang dikatakan
oleh Yoh.
************
Chapter 4
“Reuni dan Teman Masa Lalu”
Masih di rumah sakit, Kai tetap
menunggu kakaknya bangun dari tidurnya. Izumi juga tetap setia menemani Kai
walaupun dengan jadwal syuting yang padat.
Perlahan-lahan
mata Riko telah membuka membuat Kai dan Izumi tampak senang. Riko yang heran
dengan Kai dan Izumi yang berada di sana membuatnya penasaran, “Kenapa kalian
berada di sini? Bukankah kalian seharusnya ada jadwal syuting hari ini?” Kai
langsung menjawab, “Karena kejadian hari ini, syuting dibatalkan. Tapi apakah
Oni-chan baik-baik saja?” Riko bangun dan berposisi duduk, “Aku baik-baik saja.
Tapi, dimana Ken-chan?” “oneesan sudah pergi. Katanya ada pekerjaan yang harus
diselesaikan.”
Izumi
memotong pembicaraan dan penasaran, “Tapi, apa yang terjadi pada Oni-chan?”
Riko menjawab, “Aku sendiri tidak ingat karena terlalu shock. Tapi waktu itu
saat aku mempersiapkan barang-barang syuting tiba-tiba ada seorang laki-laki
berbaju hitam datang menghampiriku. Saat aku tanya namanya entah mengapa ia
mengeluarkan pisau dan hampir menusukku. Namun untungnya ada seseorang yang
menyelamatkanku.” Kai mulai penasaran, “Lalu, siapa yang menolong Onii-chan?”
“Kau akan kaget jika mengetahuinya, tapi aku jadi merasa bersalah karena
tangannya terluka saat menyelamatkanku.” Jawab Riko dengan senyuman. Namun Kai
masih penasaran, “Memangnya, siapa dia? Kenapa aku harus kaget?” Kali ini Riko
tersenyum lebih lebar lalu menjawab, ”Nanti kau tau sendiri.” Setelah mendengar
jawaban Riko, Kai dan Izumi malah semakin kebingungan. Tetapi Riko tetap
tersenyum lebar.
Minggu
pagi, Kai masih tertidur di ranjangnya. Lalu kakaknya masuk ke kamar Kai dan
membuka tirai jendela sehingga cahaya matahari membuat Kai terbangun. “Bangun
Kai, hari sudah siang.” Kakaknya membangunkan Kai dengan menatap keluar
jendela. Namun Kai tidak menghiraukannya dan malah tetap tidur dengan mengambil
selimut dan menutup wajahnya dari cahaya matahari.
Kakaknya
yang melihat Kai masih tidur datang menghampiri Kai dan mengambil selimut yang
menutupi wajahnya Kai, “Bangunlah, sudah waktunya sarapan. Jam 9 nanti
onni-chanmu harus pergi.” Mendengar kakaknya Kai langsung bangun dengan wajah
yang kesal, “Onni-chan, biarkan aku tidur 10 menit. Lagipula hari inikan hari
minggu.” “Walaupun hari minggu, tapi kan harus sarapan dulu. Lagipula hari ini
kau ada janjikan dengan teman-temanmu kan?” Kata kakaknya sambil duduk di atas
kasur. Kai sempat kesal, namun setelah melihat luka di lengan kakaknya, membuat
Kai mengurungkan niatnya lalu menjawab dengan dengan wajah sinis, “Baik,
baik.... Aku akan turun.” Mendengar jawaban adiknya membuatnya tersenyum manis.
Riko
dan Kai sarapan di ruang makan. Mereka hanya sarapan berdua karena orang tua
mereka pergi ke luar negeri untuk bisnis perusahaan. Setelah selesai sarapan,
Riko memungut piringnya untuk dicuci. Namun, Kai langsung menyambar piring itu
dan mengatakan, “Biar aku saja yang mencucinya.” Kakaknya langsung kaget dan
tersenyum sambil berkata, “Wah, sekarang adikku yang tercinta ini sudah
mandiri, ya.” Karena merasa tersindir, Kai langsung mengatakan bahwa ia memang
dari dulu sudah mandiri, hanya saja kakaknya itu yang terlalu memanjakannya.
Riko tersenyum dan berkata, “Baiklah kalau begitu. Onii-chan mau pergi dulu
dengan Ken. (bunyi klakson mobil Ken)
tuh, Ken sudah menunggu di luar. Berhati-hatilah di jalan ya! Dan juga tolong
berikan salamku pada Izumi.” Riko membuka pintu lalu masuk ke mobil Ken. Di
dalam rumah, Kai mencuci piringnya dan mengomel, “Cih! Kenapa harus
kusampaikan? Izumi saja tidak kuajak.”
Pukul
10.30 teman-teman Kai sudah menunggu di depan stasiun Shibuya. Salah satu
temannya yang bernama Youta memanggil Kai, “KAI....” Kai menoleh ke arah mereka
lalu menghampirinya.
Teman
Kai yang yang bernama Noragami segera memarahi Kai karena terlambat, “Kai....
Kenapa kau terlambat? Kami menunggu lama disini.” Namun Kai malah membalas
dengan nada sombongnya, “Tentu saja aku terlambat. Aku ini kan artis! Banyak
sekali jadwal syuting dan....” belum
selesai berbicara, kepala Kai sudah dijitak
oleh Erika, “Kau ini terlalu banyak bicara! Kami tahu kalau kau artis, tapi
jangan lupakan kalau kami ini juga ARTISSSS!!!” Kai langsung menutup telinganya
dengan kedua tangannya dan menjawab, “Aku kan berbeda dengan kalian. Aku harus
kesana-kemari untuk urusan syuting. Sedangkan kalian masih bisa jalan-jalan
kesana kemari.” Erika langsung marah dan mencoba memukuli kepala Kai lebih kuat
namun dicegah oleh Hanabi, “Hentikan Erika-chan. Tidak baik memukuli orang.
Lagipula kau ini kan perempuan. Juga Kai-kun kami memang tahu kalau memiliki
jadwal yang padat akan tetapi kau tetap saja masih junior, dan aktingmu juga
saat menyatakan cinta benar-benar buruk. Bahkan lebih buruk dari suara kucing
yang ingin melamar kekasihnya.”
Noragami
langsung memotong, “Hanabi, leluconmu aneh tapi lucu.” Noragami langsung
mengacungkan jempolnya. Kai malah heran, dan berpikir bahwa yang dikatakan
Hanabi memang benar tapi malah jadi lelucon.
Kai
mulai menengok kesana kemari dan bertanya, “Dimana Youta? Dari tadi aku tidak
melihatnya.” Noragami menjawab, “Karena kau terlalu lama, jadi Youta pergi
untuk membeli cemilan. (melihat ke arah
Youta yang berada di belakang Kai) Tapi sepertinya dia lebih populer dari
pada seseorang.”
Karena
merasa tersindir, Kai langsung menengok ke belakang dan terperanjat karena
banyaknya Fans Youta mengelilingi Youta berebut meminta tandatangan. Kai
bergumam, “Dia menggunakan topi dan kacamata agar tidak mudah dikenali tapi
orang-orang mengenalinya dan berebut meminta tandatangan. Sedangkan aku yang tidak
menyamar malahan tidak ada yang mengenaliku.” “Itu karena Youta-kun lebih
tampan dan keren. Jadi banyak gadis-gadis yang tertarik dengannya.” Erika
memotong gumamnya Kai. “Apa maksudmu? Aku juga orang yang tampan dan lebih
keren dari Youta.” Erika tersenyum menyindir, lalu Youta datang membawa
beberapa makanan dan minuman. “Ini makanan dan minumannya.” Kata Youta saat
memberikan cemilan itu ke Erika.
Dengan
wajah sinis, Kai bertanya kepada Youta, “Kenapa kau membeli itu. Kita kan hanya
pergi ke reunian SD. Tidak perlu membawa itu kan?!” “Oleh karena itu kita harus
membawa beberapa cemilan. Karena kemungkinan makanan yang ada disana pasti
dihabiskan oleh Dia. Benarkan Hanabi-chan?” Sambung Erika. “Benar kemungkinan
70% makanan akan dihabiskannya, 20% sisa makanan untuk kita dan semuanya.”
Jelas Hanabi. “Lalu 10%nya?” tanya Noragami. Hanabi pun menjawab, “10%nya.... (sambil mengangkat jari telunjuknya ke atas)
Dia tidak hadir.” Kai langsung menghela nafas setelah mendengar jawaban Hanabi
yang tidak masuk akal tapi bisa masuk akal. Namun bagi Noragami itu adalah lelucon
yang sangat lucu sehingga ia tertawa sangat keras dan membuat yang lainnya
sangat heran.
“Ayo
kita berangkat sekarang, sebelum terlambat.” Ajak Youta. Lalu mereka masuk ke
stasiun dan menunggu kereta datang. Keretanya telah tiba, mereka segera masuk
dan mencari tempat duduk. Namun tidak ada kursi yang tersisa. Mereka terpaksa
berdiri hingga kereta tiba di stasiun berikutnya. Lagi-lagi banyak gadis-gadis
terpesona melihat Youta yang sedang berdiri dengan kerennya. Gadis-gadis itu
meminta foto dan tanda tangan. Kai melihat Youta dengan rasa iri. Tiba-tiba ada
seorang gadis menepuk punggung Kai dan menyerahkan sebuah handphone. Kai
tiba-tiba merasa bahagia karena ada juga yang menyadari kehadiran Kai lalu
bertanya dengan pd-nya, “Apakah kau
ingin minta foto denganku?” namun gadis itu malah menjawab, “Maaf, bisakah kau
memfoto kami dengan Youta-san?” Setelah mendengar jawaban gadis itu, Kai
langsung lesu dan Noragami, Erika dan Hanabi langsung tertawa terbahak-bahak, “Hahaha....
Ternyata orang terkenal tidak begitu dikenal ya.” Sindir Noragami lalu
dilanjutkan oleh Erika, “Hihihi.... benar. Walaupun punya jadwal syuting yang
padat bukan berarti dia populer. Hahahaha.....” Kai terpaksa memfoto dengan
agak kesal.
Di
tempat yang agak jauh ada seseorang yang terus melihat Kai. Sepertinya dia
adalah orang yang dicari Kai saat kakaknya terluka. Kali ini dia hanya memakai
jaket hitam yang berkerudung. Dia terus memperhatikan Kai dan sedikit tertawa
melihat kelakuan Kai dan teman-temannya.
Kereta
telah sampai di Stasiun Fukushima. Mereka segera turun dan menuju ke lokasi
reuni. Sampailah mereka ke lokasi itu. Di aula SD mereka dahulu. Seperti
dugaan, semua makanan telah dihabiskan oleh teman sekelas mereka waktu SD yang
bernama Kojima. Badannya gemuk dan besar.
Erika
melihat Kojima dengan menggelengkan kepala karena langsung melahap 3 jenis
makanan sekali lahap. Kai terus melihat Kojima yang begitu rakus sampai menelan
ludah. Tiba-tiba Hanabi membuat lelucon, “Orang yang memiliki tempat
penyimpanan yang besar, maka harus diisi penuh.” Setelah mendengar lelucon
Hanabi, lagi-lagi Noragami tertawa dengan keras. Kai, Erika, dan Youta begitu heran
melihat Noragami yang tertawa keras setelah mendengar lelucon Hanabi.
Disaat
mereka sedang bercanda bersama tiba-tiba datang seorang wanita. Dia adalah
cinta pertama Kai yang bernama Ayumi Nakayama. Hanabi langsung memberi salam, “Konnichi
wa. Bagaimana kabarmu, Ayumi-chan?
(sambil membungkukan badan)” Ayumi
tersenyum dan membungkukan badan, “Konnichi wa. Saya baik-baik saja.”
Setelah
melihat Ayumi, Erika tiba-tiba meledek, “Wah, wah... Sepertinya kisah cinta
masa lalu bersemi kembali. (sambil
melirik Kai dan Ayumi)” Merasa tersindir Kai langsung mengusir Erika dan
Hanabi.
Kai
dengan agak canggung mendekati Ayumi dan bertanya, “Ba-bagaimana ka-kabarmu
akhir-akhir ini?” Ayumi yang juga merasa canggung menjawab, “Akhir-akhir ini
saya baik-baik saja. Hanya saja..... (melirik
Kai)” “Hanya saja apa?” Ayumi tersipu malu dan menundukkan kepala, “Ahh,...
Tidak ada apa-apa. Tidak usah dipikirkan.” Mereka berdua masih tersipu malu
tiba-tiba Youta datang dari arah belakang menyapa Ayumi, “Hei, Ayumi-chan!
Bagaimana kabarmu?” Ayumi dan Kai langsung menoleh ke arah Youta. “Saya
baik-baik saja. Bagaimana kabar Youta-san?” jawab Ayumi dengan tersenyum manis.
“Saya baik-baik saja. Bagaimana kalau kita bergabung dengan lainnya?” Tawar
Youta ke Ayumi dengan senyuman manisnya. Ayumi tersipu malu dan tersenyum,
“Baiklah.” Youta tiba-tiba merangkul Ayumi dan membuat Kai cemburu. Saat mau
melangkah, Youta bertanya kepada Kai, “Kau tidak mau kesana?” Kai dengan kesal
menjawab, “Tidak, nanti saja aku kesana.” “Ya sudah.” Youta dan Ayumi berjalan
meninggalkan Kai.
Scene
beralih ke kantor polisi. Yoh dan Sato masih berpikir tentang kejadian gantung
diri itu. Yoh melihat sebuah kertas yang diduga surat wasiat direktur tersebut.
Isinya tertulis,
“Maafkan
aku, karena aku seorang ayah yang tidak berguna. Maaf karena aku tidak bisa
melindungi kalian. Aku bangkrut sekarang. Semua itu karena aku mempercayai
kata-katanya. Sekarang aku akan mati,
kalian tidak perlu cemas karena aku akan menagih kepada orang itu. Arwahku akan
bergentayangan hingga dia mati ditanganku. Salam Ayahmu dan suamimu.
Istriku,
aku tetap mencintaimu dan juga anak-anak kita.”
Setelah
membaca surat itu, Sato menghampiri Yoh dengan membawa dua cangkir kopi dan
bertanya kepada Yoh, “Yoh-san kenapa kau berpikir kalau kasus ini benar-benar
pembunuhan?” Yoh memperlihatkan surat tersebut ke Sato, “Lihatlah isi dari
surat itu! Disana tertulis aku akan
menagih kepada orang itu. Pasti tidak menagih utang atau pun uang tapi
bagian atasnya ada kata-kata bangkrut. Jikalau bangkrut, kondisi keuangannya
pasti menipis tetapi jika melihat tabungannya, kondisi perekonomiannya sangat
stabil dan tidak ada pengeluaran yang berlebihan.” Sato yang masih kebingungan
bertanya lagi, “Memang benar yang dikatakan Yoh-san. Tetapi mengapa kata-kata
ini bisa dijadikan bukti kalau ini kasus pembunuhan” Yoh mengambil surat itu
lalu mengahadap ke arah jendela, “Bukan dari kata-kata itu. Tetapi kata-kata
setelahnya. Kata-kata itu hanya menunjukkan masalah yang dimiliki korban yang
tidak berkaitan dengan uang.” Sato masih kelihatan bingung, “Kata-kata
setelahnya?”
Yoh
memperlihatkan surat itu kepada Sato, “Bacalah kalimat yang kelima dan keenam.
Kalimat kelima mengatakan, ‘Sekarang aku
akan mati, kalian tidak perlu cemas
karena aku akan menagih kepada orang itu.’ Dalam keadaan yang sudah mati,
mana mungkin ia dapat menagih kepada orang itu. Lalu kalimat yang keenam
mengatakan, ‘Arwahku akan bergentayangan
hingga dia mati ditanganku.’ Dari kedua kalimat itu aku menafsirkan orang
mati tidak bisa membunuh maka untuk membunuh harus diperlukan orang yang masih
hidup. Maka dapat dipastikan bahwa ia telah dibunuh. Lalu kalimat yang keenam
menandakan akan terjadi pembunuhan selanjutnya dari kata arwahku yang bergentanyangan. Tetapi sang pelaku membunuh tanpa
meninggalkan jejak sekecil apapun namun dari suratnya menjelaskan akan ada
pembunuhan selanjutnya. Pasti sang pelaku sengaja untuk memberitahu kita akan
terjadi pembunuhan berantai.” Sato terkejut dengan penjelasan Yoh dan bertanya
lagi, “Lalu, siapa korban selanjutnya?” Yoh menghela nafas, “Aku masih belum
tahu. Tidak ada petunjuk lainnya lagi.”
************
Chapter 5
“Pertemuan yang Tak Terduga”
Scene
beralih lagi ke acara reuni. Setelah acara reuni itu selesai, mereka
berjalan-jalan di pinggiran jalan. “Hah, reuninya kali ini tidak menyenangkan.”
Rengek Kai. Lalu disambung Erika, “Benar. Walaupun kita membawa makanan tetap
saja dihabiskan Si Gendut itu. Sampai sekarang aku masih lapar” Hanabi lalu
menjawab, “Sudah saya bilang, Orang yang memiliki tempat penyimpanan yang
besar, maka harus diisi penuh.” Erika langsung meledek lelucon Hanabi,
“Hanabi-chan, leluconmu itu aneh tidak lucu sama sekali.” Hanabi langsung
menatap Erika mengungkapkan bahwa ia kesal dengan ledekan Erika. Erika pun sama
menatap Hanabi dengan mengungkapkan bahwa ia siap menantang Hanabi. Noragami
yang melihat Hanabi dan Erika saling menatap kesal langsung menengahi dan
berdiri di tengah-tengah mereka, “Sudahlah, jangan bertengkar kaliankan
sahabat.” Erika dan Hanabi langsung menoleh ke arah berlawanan.
Kai
yang melihat Noragami yang tidak bisa menyatukan mereka kembali langsung
menyindir dan berbisik ke Noragami, “Sepertinya kau gagal lagi. Kali ini yang
keberapa ya? Mungkin 50 lebih atau 100 lebih?” Noragami yang langsung
tersinggung langsung berteriak, “Ini tidak termasuk dengan kegagalan itu. (sambil bersemangat) Baiklah! Karena
kita sedang lapar kita tidak berpikir dengan jernih. Bagaimana kalau kita makan
di restoran Kakakku yang ada di sekitar sini?” Kai memotong, “Tetapi kalau di
restoran kakakmu bukankah harus membayar walaupun dengan adiknya sendiri?”
Noragami langsung terkejut dan teringat, “Be-benar juga. (menggelengkan kepala) Ahh... Tidak kali ini harus berhasil.
Baiklah. Aku akan mentraktir kalian makan di restoran kakakku. Tapi hanya hari
ini saja.”
Erika
dan Hanabi langsung menoleh dan mendekatkan wajah ke arah Noragami lalu Erika
dan Hanabi bergantian bertanya, “Benarkah kau akan mentraktir kami?” lalu
disambung dengan pertanyaan Hanabi, “Apakah kau berjanji akan mentraktir kami
makan di restoran Kakakmu?” Noragami yang sedikit gugup karena wajah mereka
berdua sangat dekat dengan wajah Noragami menjawab, “I-iya,... Aku berjanji
akan akan mentraktir kalian ta-tapi hanya hari ini saja.” Setelah mendengar
jawaban Noragami Erika dan Hanabi langsung berteriak gembira dan langsung
melakukan high five. “Rencana kita berhasil, Hanabi-chan,” teriak gembira Erika
lalu disambung dengan Hanabi, “Benar! Kita sekarang dapat makan sepuasnya tanpa
membayar...!” Noragami yang terkejut melihat pengakuan mereka berdua langsung
bertanya-tanya, “Tu-tunggu dulu.... Kalian merencanakan ini dari awal? (melihat anggukan Erika dan Hanabi) Jadi,
kalian berpura-pura bertengkar? (melihat
anggukan Erika dan Hanabi lagi) Kalian menipuku? (dengan nada yang agak tinggi) Aku tidak akan mentraktir kalian.
Itu sudah batal.” Hanabi dan Erika mendekatkan wajah mereka ke Noragami lagi,
“Tapi kau sudah janji...” jelas Hanabi lalu dilanjutkan Erika, “Benar. Dan
janji harus ditepati!!! (Berteriak
gembira dengan Hanabi) Ayo Hanabi-chan kita ke restoran Yugito-san!!”
Hanabi menggangguk gembira dan mereka berdua melompat-lompat kegirangan.
Kai
dan Youta melihat Noragami yang lemas langsung menghampiri dari belakang,
“Sudahlah... Ikuti saja kemauan mereka” dilanjutkan Youta, “Benar. Lagipula kau
kan sudah berjanji dan janji itu harus ditepati. (sambil menepuk pundak Noragami)”
Tiba-tiba
dari arah belakang ada seorang laki-laki berlari menjambret tas Hanabi. Kai dan
Youta tidak tinggal diam lalu berlari mengejar penjambret itu. Kai berlari
hingga menabrak orang-orang di depannya sedangkan Youta mengambil jalan pintas.
Sampailah
Youta tepat di depan penjambret itu.
Melihat Youta sudah di depan penjambret itu lari ke belakang. Namun sudah
dihadang oleh Kai. Lalu penjambret itu berpikir dan mencoba meloloskan diri
lewat samping. Namun sudah dihadang oleh
Noragami, Erika dan Hanabi. Kai lalu berteriak, “Serahkan tas itu!!!” Karena
sudah terkepung penjambret itu mencari cara untuk melarikan diri. Keluarlah
seseorang dari sebuah toko. Penjambret itu langsung menarik orang tersebut lalu
menyanderanya dengan pisau dekat leher orang itu dan berteriak, “Kalian semua
minggirlah!!! Atau orang ini akan mati!!!!” Kai dan lainnya tidak bisa berbuat
apa-apa. Dan berdiri seperti batu.
Lalu
terdengar suara orang yang disandera penjambret itu, “Aku yang mati atau kau
yang mati?!” Penjambret itu terkejut lalu orang itu langsung menyikut di ulu
hati lalu menendang kepala penjambret itu dengan kaki kirinya. Ternyata orang
yang disandera itu adalah orang yang dicari Kai saat terjadi insiden pada
kakaknya. Penjambret itu mencoba menusuk orang itu. Namun dengan gesitnya orang
itu menghindar dan memegang tangan penjambret tersebut lalu membantingnya
hingga pisau itu terlepas dari genggamannya.
Para
polisi segera datang lalu meringkus penjambret itu yang terbaring di atas
tanah. Orang itu menghela nafas dan mengambil tas milik Hanabi, “Hah... Kau
salah jika menyandera orang.” Hanabi datang mendekat, “Ma-maaf,.. Itu tasku.
Dan terima kasih.” Orang itu langsung menoleh ke belakang membuat Hanabi
terkejut melihat wajah orang itu yang begitu manis dan tampan. “Aaa...
sama-sama. Ini tasnya tolong dijaga baik-baik. Juga periksa dahulu isi tasnya.”
Orang itu menyerahkan tas Hanabi dengan senyuman membuat Hanabi terpesona.
Kai
terus memperhatikan orang itu seperti mengenal orang tersebut. Kai terus
berpikir dan sepertinya ia mengenal sorot mata orang itu. Akhirnya ia
mengenalinya. Dia adalah orang yang dikejar Kai waktu insiden tersebut.
Segera
ia mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kau orang yang berada di lokasi
syuting itu? Kau tahu apa yang terjadi pada onii-chanku bukan?” Karena
kebingungan dengan pertanyaan Kai Hanabi langsung bertanya, “Apa maksudmu Kai?”
Namun Kai tidak menjawab pertanyaan Hanabi malah menyeret orang itu keluar dari
kerumunan orang-orang.
Lalu
Kai bertanya lagi pertanyaan yang sama. Akhirnya orang itu menjawab, “Jika aku
jawab ‘iya’ lalu apa yang akan kau lakukan?” Kai terkejut dengan jawaban
sekaligus pertanyaan orang itu, sekali lagi Kai bertanya kepada orang itu dengan
wajah yang begitu meyakinkan, “Jadi,.... kau adalah... pelakunya?? (sambil memegang pundak orang itu)”
Orang itu tidak menjawab malah seperti kebingungan dengan pertanyaan yang
diajukan Kai.
Wajah
Kai seperti orang frustasi lalu tiba-tiba handphone Kai berbunyi. Dalam display
handphone Kai tertulis nama kakaknya Kai. Segera Kai mengangkat handphone itu
lalu berbalik, “Onii-chan, aku menemukan pelakunya.” Kakaknya seperti
kebingungan dengan penyataan Kai, “Pelaku apa?” “Pelaku yang membuat onii-chan
terluka.” Disaat itu orang tersebut kebingungan dengan tingkah laku Kai
sehingga ia langsung meninggalkan Kai. Kakaknya Kai menjawab, “Ohh... yang
kemarin... Kalau soal itu pelakunya sudah ditangkap polisi. Sekarang Onii-chan
sedang di kantor polisi untuk bersaksi. Onii-chan menghubungimu untuk tidak
usah cemas lagi karena pelakunya sudah ditangkap.” Kai terkejut dengan
penjelasan kakaknya yang membuatnya bersalah karena menuduh seseorang.
Kai
berbalik dan terkejut karena orang itu sudah menghilang. Lalu Kai menengok kesana-kemari untuk mencari
keberadaan orang itu namun tidak menemukannya. Tiba-tiba Noragami memanggil
Kai, “Hei, Kai!!! Kau sedang apa? Kau tidak ingin makan?” lalu Kai menjawab,
“I-iya..” Kai masih mencari-cari orang itu namun tetap saja tidak menemukannya.
Karena terlalu lama Erika memanggil lagi, “Kai!!! Cepat” “I-iya,... Tunggu
sebentar.” Kai berhenti mencari orang itu dan pergi mendekati teman-temannya.
Ternyata
orang itu berada di antara kerumunan orang-orang. Dia mengangkat telepon dari seseorang
dengan tangan kirinya yang diperban dan menjawab penuh misterius, “Dia baik-baik saja, sekarang. Aku akan tetap
mengawasinya (sambil menatap mereka dari
kejauhan)” Karena seperti merasa diawasi, Youta berbalik dan melihat
kebelakang. Saat itu orang tersebut panik lalu berbalik lalu berjalan di antara
kerumunan orang. Youta melihat-lihat mencari orang yang mengawasi mereka dari
tadi namun tidak menemukannya. Tiba-tiba Hanabi memanggil Youta, “Hei, Youta!
Kau sedang mencari apa?” Terkejut karena Hanabi memanggilnya, akhirnya Youta
menjawab, “Ahh, tidak... Tidak sedang cari apa-apa.” Youta pun bergumam,
“Mungkin hanya perasaanku saja.” Kai melihat wajah Youta seperti mengetahui
siapa yang Youta cari dan mungkin saja yang Youta cari sama dengan orang yang
dicari Kai juga.
Kai
dan temannya sedang makan di restoran kakaknya Noragami. Erika dan Hanabi
memesan banyak makanan sedangkan Noragami hanya memesan sepiring Gyoza dan
segelas minuman. Erika dan Hanabi begitu
senang dapat memesan sepuasnya sampai-sampai mereka melakukan ‘cheers’ segala.
Sedangkan Noragami duduk lesu sambil makan Gyoza-nya, “Hahh... Seharusnya aku
tidak mengatakan hal seperti itu...” Youta yang melihat Noragami sangat lesu
mencoba menyemangatinya, “Biarlah, sekali-kali kau mentraktir kami di restoran
kakakmu. Nanti kalau kurang bayarnya kami bantu.” Kai tiba-tiba meledek, “Kali
ini kau benar-benar gagal Noragami...” Noragami terlihat putus asa lalu
meletakan kepalanya di atas meja karena uang yang ia tabung bertahun harus
ludes membayar makanannya.
Tiba-tiba
dari arah belakang terdengar suara perempuan, “Kenapa kau kelihatan sedih,
Noragami-kun?” Mereka semua menengok ke arah datangnya suara. Ternyata dia
adalah Izumi pacarnya Kai. Noragami begitu kaget hingga mulutnya menganga
lebar. Youta memberi salam dan bertanya, “Mengapa artis cantik sepertimu datang
kesini, Nakamura-san?” Izumi menjawab dengan wajah imutnya, “Aku kesini untuk
makan. Sebelumnya, aku sedang syuting di sekitar sini. Karena aku mendengar
seperti suara Erika dan Hanabi, lalu aku datang kesini. Tapi, ngomong-ngomong
Youta-kun. Tak bisakah kau memanggil Izumi saja?! Memanggil dengan nama
keluarga terasa aneh bagiku. Bukankah aku sudah memberitahumu?” Youta
tersenyum, “Baiklah, Izumi-chan.” Kai merasa terganggu dengan kehadiran Izumi,
segera mengusir Izumi dengan sikap judes, “Maaf, bukannya saya mengusirmu, tapi
meja ini hanya khusus untuk alumni SD Fukushima, lagi pula di sini hanya ada 5
kursi saja.”
Dari
mimik wajah Noragami, sepertinya Noragami mendapat ide cemerlang untuk
meringankan beban mangeluarkan uang yang berlebihan, “Tunggu, Izumi. Jangan
pergi dulu. Kau makan disini saja.” Kai heran dengan ajakan Noragami untuk
tidak membiarkan Izumi pergi, “Mengapa kau tiba-tiba menyuruh Izumi untuk makan
disini?” Noragami mendekatkan wajahnya ke wajah Kai dan berkata dengan wajah
yang sangat bahagia, “Because I have a idea.” Mereka semua yang mendengar perkataan
Noragami merasa bingung dan bertanya-tanya mengapa Noragami menggunakan bahasa
Inggris.
************
Chapter 6
“Organisasi Hitam”
Ditempat
lain ruangan yang gelap seperti di dalam ruangan yang tertutup, tampak beberapa
orang disana dan wajah mereka tidak terlihat karena sungguh gelap tanpa cahaya
yang menjadi penerang. Salah satu sedang bermain komputer, yang satu sedang
berdiri bersandar di tembok, yang satunya lagi sedang tiduran di sofa dan
satunya yang diduga pemimpinnya sedang duduk di meja kerjanya melihat tumpukan
kertas di sana.
Orang
yang bersandar di tembok memulai pembicaraan, “Mengapa Boss menyuruh kita untuk
berkumpul? Apakah ada pekerjaan lagi?” Orang yang sedang bermain komputer
menjawab dengan ledekan, “Jika bukan tentang pekerjaan, apa lagi? Bermain?”
Orang yang bersandar di tembok marah karena ledekan orang itu, “Hei, kau ini!
Aku tidak bertanya padamu! Lagipula kau dari tadi hanya bermain komputer.”
Orang yang bermain komputer marah dan menatap orang itu dengan tangan memegang
mouse dan keyboard, “Hei! Aku tidak bermain sepertimu! Aku sedang membajak file
dari kepolisian.” Orang yang bersandar kembali marah dan mencoba memukul orang
itu, “Apa yang kau bilang?! Aku bermain?!!” Namun orang yang sedang tiduran di
sofa menenangkan mereka, “Sudahlah! Kalian berhenti bertengkar! Seperti anak
kecil saja. Jika kalian seperti anak kecil lagi, kalian lebih baik pergilah!”
Mereka semua terdiam. Lalu tiba-tiba ada bunyi seperti seseorang membuka pintu.
Pemimpinnya melihat ke arah pintu dengan wajah yang tak terlihat karena gelap
dan berkata, “Kau sudah datang. Kami menunggumu.” Orang yang di depan pintu
melangkahkan kakinya memasuki ruangan.
Malam
harinya, Kai dan teman-temannya telah selesai makan dan akan kembali ke rumah
masing-masing. Youta memulai pembicaraan, “Tak kusangka ternyata Yugito-san
menyukai Izumi-chan.” Noragami menjawab dengan senangnya, “Tentu saja. Dari
dulu kakakku adalah fans berat Izumi-chan. Jadi, jika Izumi-chan makan di
restorannya pasti diberi dengan gratis. Apalagi kita makan di meja yang sama
dengan Izumi-chan. Makan gratis tanpa perlu bayar sepeserpun.” Kai menanggapi
dengan judes, “Untung saja disana ada Izumi. Benarkan Noragami?! Hahh....
padahal aku ingin melihatmu putus asa seperti tadi.” Erika menyambung
pembicaraan, “Yahhh,... padahal aku juga ingin melihatmu putus asa tidak bisa
membayar, tapi tidak apalah. Yang penting bisa makan sepuasnya....Yeee!!!” Mendengar
perkataan Kai dan Erika membuat Noragami kesal, “Hei... Jadi kalian membuat aku
bangkrut agar dapat melihat wajahku yang putus asa? Kalian ini teman atau bukan
sih...!!!”
Namun
mereka tidak mendengar perkataan Noragami malahan mereka mengobrol sendiri
tanpa Noragami dan meninggalkan Noragami yang berada di belakang. Hanabi
mengatakan sesuatu, “Ngomong-ngomong kenapa Erika-chan tidak pulang dengan
kita? Apakah dia tidak menyukai kita?” Youta menjawab, “Tentu saja tidak. Dia memang
punya jadwal syuting yang lain.” Noragami yang ditinggal terus berteriak,
“Hei,... Kalian!!! Dengar aku tidak sih?! Hei... Kenapa aku ditinggal?!” Hanabi
mulai bertanya lagi, “O,. Iya... Kira-kira dia siapa ya?” Erika bingung, “Dia?
Dia siapa?” Hanabi menjelaskan, “Itu lho! Dia yang menolong kita saat tasku
dijambret.” Kai dan Youta terkejut ketika Hanabi membicarakan orang itu seperti
ada sesuatu hal yang membuat mereka penasaran. Erika mulai paham,” Ooo... Orang
itu! Aku sendiri juga tidak tahu. Emangnya kenapa?” Hanabi senyum-senyum
sendiri, “Ti-tidak ada apa-apa. Hanya saja orang itu lumayan.” Erika tersenyum
dan mulai mengejek, “Wahh... sepertinya ada yang mulai jatuh cinta... (memeluk bahu Hanabi dengan tangan kiri)”
Hanabi merasa malu dan melepaskan tangan Erika dari bahunya.
Noragami
melihat gang menuju rumahnya dan berpamitan pulang, “Sepertinya kita harus
berpisah. Rumahku sudah dekat. Kalau begitu sampai jumpa.” Noragami berjalan
menuju gang tersebut dan pulang sambil melambaikan tangan ke teman-temannya. “Oh,...
Kita sepertinya harus berpisah,” kata Hanabi melihat jalan ke arah rumahnya.
“Kalau begitu sampai jumpa di sekolah minggu depan,” kata Erika pada mereka.
Mereka saling melambaikan tangan dan pergi ke arah yang berlawanan.
Kai
berjalan sendirian karena di tengah jalan Youta harus pergi ke suatu tempat
dulu. Saat ia mendesah, tiba-tiba seseorang muncul di depannya. Ternyata orang
itu yang pernah ia cari. Kai berteriak, “Siapa kau?! Bukankah kau orang yang
tadi?” Orang itu tetap diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kai kembali
bertanya, ”Apa tujuanmu?! Apakah kau ingin membunuhku juga Onni-chan?!” Orang
itu masih diam tidak menjawab pertanyaan Kai, lalu tiba-tiba berlari
mengahampiri Kai dan melayangkan kepalan tangan kanannya ke arah wajah Kai. Kai
shock mencoba menghindari tinju dari orang itu.
Karena
memiliki firasat akan terjadi sesuatu pada Kai, Youta bergegas kembali dan
menuju ke tempat Kai berada. Tiba-tiba ia terhenti melihat suatu kejadian
menghebohkan.
Kembali
ke ruangan yang gelap, orang itu membuka pintu dan melangkahkan kakinya
memasuki ruangan yang gelap. Cahaya bulan menerangi ruangan itu melewati
jendela kecil di atap. Ternyata dia adalah orang yang dicari-cari Kai selama
ini berhubungan dengan kasus kakaknya. Orang yang duduk di kursi berkata, “Kau
sudah datang. Kami menunggumu. Ada pekerjaan khusus untukmu. (sambil
menyerahkan foto ke orang itu dan seseorang yang ada di foto itu adalah Kai)”
Orang itu mengambilnya dan menjawab, “Akan kulaksanakan.” Terlihat wajah orang
itu memandangi foto tersebut dengan tersenyum.
************